May 02, 2015

RESUME BK (Kelompok 8)



KONSEP DASAR DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR
DAN PENGAJARAN REMEDIAL


I. Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar

A.      Definisi Diagnostik Kesulitan Belajar
Kegiatan memahami kesulitan belajar siswa dikenal dengan istilah diagnostik kesulitan belajar. Diagnostik adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan cara  meneliti latar belakang penyebabnya atau menganalisis gejala-gejala yang tampak. Sedangkan kesulitan belajar didefinisikan sebagai rendahnya kepandaian yang dimiliki seseorang dibandingkan dengan kemampuan yang seharusnya dicapai orang itu pada usianya. Dapat disimpulkan bahwa diagnostik kesulitan belajar merupakan proses menentukan masalah atas ketidakmampuan siswa dalam belajar dengan cara meneliti latar belakang penyebabnya dan menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.

B.       Jenis-Jenis Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar dibagi menjadi tiga kategori besar, yaitu :
1.    Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
Kesulitan ini sering menjadi indikasi awal bagi kesulitan belajar yang dialami seorang anak. Orang yang mengalami kesulitan jenis ini akan menemui kesulitan dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa yang tepat, berkomunikasi dengan orang lain melalui penggunaan bahasa yang benar, atau memahami apa yang orang lain katakan.
2.    Permasalahan dalam hal kemampuan akademik
Siswa-siswi yang mengalami gangguan kemampuan akademik berbaur bersama teman-teman sekelasnya demi meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung mereka.
3.    Kesulitan lainnya,
Kesulitan ini mencakup kesulitan dalam mengoordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori di atas.

C.      Faktor Penyebab Munculnya Kesulitan Belajar
Faktor penyebab munculnya kesulitan belajar dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.    Faktor Internal
a.    Kesehatan
Kondisi fisik seseorang dapat berpengaruh pada kemampuan mencapai suatu tujuan. Kesehatan yang buruk dapat berpengaruh pada tingginya ketidakhadiran siswa dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, siswa yang kurang sehat juga tidak bisa mencapai potensi yang sebenarnya.
b.    Problem menyesuaikan diri
Sumber utama faktor ini berasal dari dalam diri siswa seperti memiliki gangguan emosional. Perilaku siswa yang mengalami gangguan emosional ditandai dengan: (1) siswa menolak untuk belajar dan hanya ingin melakukan yang dia senangi; (2) siswa menjadi nakal, agresif, dan menyerang siswa lain secara terbuka; (3) siswa berprestasi negatif terhadap kegiatan belajar; (4) siswa memindahkan kekerasan dari rumah ke sekolah apabila ia menjadi korban kekerasan orang tuanya ataupun saudaranya; dan (5) siswa menolak perintah belajar atau tekanan lain dari orang tua.
2.    Faktor eksternal
a.    Lingkungan
Masalah lingkungan muncul sebagai hasil reaksi atau perubahan dalam diri siswa terhadap keluarga ataupun lingkungannya. Penolakan lingkungan terhadap diri siswa pun dapat menjadi masalah yang sulit dalam belajar.
b.    Cara guru mengajar yang tidak baik
Karena cara mengajar guru yang tidak baik dapat menimbulkan kesulitan belajar pada siswa. Agar hal ini tidak terjadi maka guru perlu melakukan perbaikan secara berkala, baik penguasaan metode mengajar maupun materi ajar.
c.    Orang tua siswa
Orang tua yang tidak mau atau tidak mampu menyediakan buku atau fasilitas belajar yang memadai bagi anaknya atau mereka yang tidak mau mengawasi anaknya dalam belajar menjadi faktor yang dapat menjadi pemicu timbulnya kesulitan belajar.
d.   Masyarakat sekitar
Masyarakat di sekitar siswa dapat menjadi sumber masalah, ketika keberadaan masyarakat tidak kondusif terhadap kebutuhan siswa secara individual maupun kelompok.

D.      Ciri-Ciri Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar
Ciri-ciri umum siswa lamban belajar dapat dilihat melalui pengamatan fisik siswa, perkembangan mental, intelektual, sosial, ekonomi, kepribadian, dan proses-proses belajar yang dilakukannya di sekolah dan di rumah. Ciri-ciri itu dianalisis agar diperoleh kejelasan yang konkret tentang gejala dan sebab-sebab kesulitan belajar siswa di sekolah dan di rumah. Rincian analisisnya mencakup hal-hal sebagai berikut: fisik, perkembangan mental, sosial, perkembangan kepribadian, proses-proses belajar yang dilakukannya.
Ketidaksanggupan siswa lamban belajar dalam menguasai pengetahuan mempengaruhi sikap dan perilakunya menjadi tidak cocok dengan lingkungan sekelilingnya sehingga mengundang masalah orang-orang di sekitarnya. Ketidaksanggupan belajar disebabkan kerusakan-kerusakan tertentu pada diri seseorang yang membuat seseorang itu lamban belajar. Menurut Cece Wijaya (2010),  kerusakan-kerusakan itu dikategorikan dalam empat hal, yaitu:
1.    Dyslexia, adalah kelemahan-kelemahan belajar di bidang menulis dan berbicara. Ciri-cirinya adalah sulit mengingat huruf, kata, tulisan, dan suara.
2.    Dyscalculia, adalah kesulitan mengenal angka dan pemahaman terhadap konsep dasar matematika. Kelemahan umum di bidang dyslexia kadang-kadang muncul di bidang pelajaran matematika. Karena itu kerusakan-kerusakan di bidang dyslexia berpengaruh terhadap kerusakan-kerusakan di bidang dyscalculia, demikian pula sebaliknya.
3.    Attention Defisit Hyperactive Disorder (ADHD), adalah pemusatan perhatian terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Siswa lamban belajar dapat memusatkan perhatiannya hanya berkisar pada satu pokok bahasan saja, ia kurang mampu menyelesaikan tugas-tugas yang beraneka ragam yang membuat dirinya menjadi kacau.
4.    Spatial, motor, ad perceptual defisits, adalah kondisi lemah dalam menilai dirinya menurutukuran ruang dan waktu.
Kerusakan lainnya yang membuat siswa lamban belajar adalah Social defisits, yaitu kesulitan mengembangkan keterampilan sosial. Kesulitan itu dapat membuat ketidaksanggupan menemukan jati dirinya. Gejala-gejalanya adalah (1) sulit menangkap tanda-tanda tingkah laku sosial, seperti dalam mencurahkan idemelalui raut muka dan gerakan-gerakan motorik lainnya, (2) sering nmemotong pembicaaan orang, (3) berbicara dengan keras, (4) sulit berteman, dan (5) ketidaksadaran terhadap cara-cara orang lain mengamati perilakunya.

E.       Prosedur Diagnostik Kesulitan Belajar
Dalam melakukan diagnostik kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, setidaknya ada tiga langkah umum yamg harus ditempuh oleh seorang guru, yaitu:
1.    Mendiagnostik kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu dengan cara mengidentifikasi kasus dan melokalisasikan jenis dan sifat kesulitan belajar terebut.
2.  Mengadakan estimasi (prognosis) tentang faktor-faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa.
3.    Mengadakan terapi, yaitu menemukan berbagai kemungkinan yang dapat dipergunakan dalam rangka penyembuhan atau mengalami kesulitan belajar yang dialamu oleh siswa tersebut.

F.       Mendiagnostik Kesulitan Belajar secara Formal
Diagnostik yang sebenarnya terhadap kesulitan belajar dilakukan dengan metode uji standar yang membandingkan tingkatan kemampuan seorang anak terhadap anak lainnya yang dianggap normal. Hasil uji tidak hanya tergantung pada kemampuan aktual anak, tetapi juga reliabilitas pengujian itu serta kemampuan sang anak untuk memperhatikan dan memahami pertanyaannya.

G.      Evaluasi Diagnostik Kesulitan Belajar
Evaluasi diagnostik kesulitan belajar merupakan evaluasi yang memiliki penekanan kepada penyembuhan kesulitan belajar siswa yang tidak terpecahkan oleh formula perbaikan yang biasanya ditawarkan dalam bentuk tes formatif. Evaluasi diagnostik kesulitan belajar pada umumnya dilakukan pada awal pengajaran, awal tahun ajaran atau semester. Tujuan evaluasi ini salah satunya adalah untuk menentukan tingkat pengetahuan awal siswa. Ada dua hal yang penting dalam melakukan evaluasi diagnostik kesulitan belajar yaitu (1) penilaian diagnostik pada umumnya jarang digunakan oleh guru untuk menentukan grade dan (2) semakin baik evaluasi diagnostik yang dilakukan, semakin jelas tujuan belajar yang dapat ditetapkan.


II. Konsep Dasar Pengajaran Remedial

A.      Definisi Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yaang bersifat mengobati, menyembuhkan atau membetulkan pengajaran dan membuatnya menjadi lebih baik dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal.

B.       Tujuan dan Fungsi Pengajaran Remedial
1.    Tujuan Pengajaran Remedial
a.    Siswa dapat memahami dirinya.
b.    Siswa dapat memperbaiki atau mengubah cara belajarnya ke arah yang lebih baik.
c.    Siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
d.   Siswa dapat mengembangkan sifat dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.
e.    Siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya.
2.    Fungsi Pengajaran Remedial
a.    Fungsi korektif, melalui pengajaran remedial dapat dilakukan perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.
b.    Fungsi pemahaman, dengan remedial memungkinkan guru, siswa atau pihak-pihak lainnya memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehesif mengenai pribadi siswa.
c.    Fungsi penyesuaian, pengajaran ramedial membentuk siswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan proses belajarnya.
d.   Fungsi pengayaan, melalui pengajaran remedial siswa dapat memperkaya proses pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran reguler dapat diperoleh melalui pengajaran remedial.
e.    Fungsi akselerasi, melalui pengajaran remedial diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efesien.
f.     Fungsi terapeutik, melalui pengajaran remedial secara langsung atau tidak akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukan adanya penyimpangan.

C.      Metode dalam Pengajaran Remedial
1.    Tanya Jawab
Metode tanya jawab digunakan dalam pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan siswa. Melalui metode ini memungkinkan terbinanya hubungan baik antara guru dan siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, dan sebagainya.
2.    Diskusi
Metode diskusi digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar-individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh sekelompok siswa.
3.    Tugas
Metode tugas digunakan dalam rangka mengenal kasus dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan metode ini, siswa diharapkan dapat lebih memahami dirinya, memperdalam materi yang telah dipelajari, dan memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.
4.    Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan diskusi. Yang terpenting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.
5.    Tutor
Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru-siswa. Pemilihan tutor ini berdasarkan prestasi, hubungan sosial yang baik, dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru.
6.    Pengajaran Individual
Pengajaran individu adalah interaksi antara guru-siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode ini bersifat terapeutik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa. Hasil yang diharapkan dalam metode ini di samping adanya perubahan prestasi belajar juga perubahan dalam pemahaman diri siswa.

D.      Strategi dan Teknik dalam Pendekatan Pengajaran Remedial
1.    Strategi dan Teknik Pendekatan Remedial Teaching yang Bersifat Kuratif
Tindakan Remedial Teaching dikatakan bersifat kuratif jika dilakukan setelah selesainya program proses belajar mengajar utama diselenggarakan. Diadakannya tindakan ini didasarkan atas kenyataan empirik bahwa siswa dipandang tidak mampu menyelesaikan program proses belajar mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Teknik pendekatan yang dipakai dalam hal  ini  diantaranya: (1) pengulangan (repetation); (2) pengayaan (enrichment) dan pengukuhan(reinforcement); dan (3) percepatan (acceleration).
2.    Strategi dan Teknik pendekatan Remedial Teaching yang Bersifat Preventif
Strategi dan teknik pendekatan preventif diberikan kepada siswa tertentu berdasarkan data atau informasi yang ada dapat diantisipasi atau setidaknya patut diduga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar. Sasaran pokok dari pendekatan preventif adalah berusaha agar hambatan-hambatan dalam mencapai prestasi dapai dihindari dan kemampuan  penyesuaian sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan dapat dicapai. Teknik pendekatan yang dipakai adalah layanan pengajaran  kelompok yang diorganisasikan secara homogen (homogenius  grouping), layanan pengajaran secara individual, dan layanan pengajaran kelompok dengan dilengkapi kelas khusus remedial dan pengayaan.
3.    Strategi dan Teknik Pendekatan Remedial Teaching Bersifat Pengembangan
Pendekatan pengembangan merupakan tindak lanjut atau upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsungnya proses belajar mengajar (PBM). Agar strategi pendekatan ini dapat dioperasikan secara teknis yang sistematis, maka diperlukan adanya pengorganisasian proses belajar mengajar yang sistematis seperti dalam bentuk pengajaran berprogram.

E.       Langkah-Langkah Melaksanakan Pengajaran Remedial
1.    Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya.
2.    Menentukan tindakan yang harus dilakukan.
a. Jika kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan pengajaran remedial kepada siswa tersebut.
b.    Jika kasusnya cukup dan berat, maka sebelum diberikan pengajaran remedial, siswa harus diberikan layanan konseling terlebih dahulu.
3.    Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling.
4.    Langkah pelaksanaan pengajaran remedial.
5.    Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar siswa dengan alat tes sumatif.
6.    Melakukan re-evaluasi dan re-diagnostik, dengan kemungkinan:
a. Kasus menunjukkan kenaikan prestasi yang dihasilkan sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Maka selanjutnya diteruskan ke program yang berikutnya.
b.   Kasus menunjukkan kenaikan prestasi, namun belum memenuhi kriteria yang diharapkan. Maka kasus diserahkan kepada pembimbing untuk diadakan pengayaan.
c. Kasus belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam hal prestasi. Maka perlu didiagnostik lagi untuk mengetahui letak kelemahan pengajaran remedial untuk selanjutnya diadakan ulangan dengan alternatif yang sama.

F.       Perbandingan Prosedur Pengajaran Biasa dan Remedial
1.    Kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dan semua siswa ikut berpartisipasi. Pengajaran perbaikan diadakan setelah diketahui kesulitan belajar, kemudian diadakan pelayanan khusus.
2.    Tujuan pengajaran biasa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sama untuk semua siswa. Pengajaran perbaikan tujuannnya disesuaikan dengan kesulitan belajar siswa walaupun tujuan akhirnya sama.
3.    Metode dalam pengajaran biasa sama untuk semua siswa, sedangkan metode dalam pengajaran perbaikan berdiferensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan).
4.    Pengajaran biasa dilakukan oleh guru, sedangkan pengajaran perbaikan oleh tim.
5.    Alat pengajaran perbaikan lebih bervariasi.
6.    Pengajaran perbaikan lebih diferensial dengan pendekatan individual.
7.    Pengajaran perbaikan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.

G.      Peran Aparat Sekolah, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Program Pendidikan dan Pengajaran Remedial
Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran remedial merupakan tanggung jawab bersama antara kepala sekolah, guru, orang tua, pemerhati pendidikan, tata usaha, dan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang terkait. Berikut adalah peranan-perananya:
1.    Kepala Sekolah
a.    Menguasai sepenuhnya program pendidikan dan pengajaran remedial di sekolah.
b.    Menyediakan sumber belajar yang lengkap dan dapat digunakan setiap waktu sesuai dengan kebutuhan.
c.    Memiliki jalinan kerja sama yang baik dengan orang tua siswa untuk mengembangkan pendidikan masa depan anak-anaknya.
d.   Mendirikan dan mengembangkan Lembaga Pusat Bimbingan dan Penyuluhan yang berfungsi menangani kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari pengetahuan.
e.    Mampu mengangkat seorang ekspert yang bertugas sebagai guru pendidikan remedial serta membantu guru bidang studi atau guru lainnya dalam memecahkan kesulitannya menghadapi siswa lamban belajar dan berprestasi rendah.
2.    Orang Tua Siswa
a.    Menerima dengan baik kunjungan sekolah di rumah (home visit).
b.    Bersikap tanggap terhadap pembicaraan kasus putra-putranya dan menunjukkan sikap tidak emosional.
c.    Senang menghadiri undangan sekolah untuk membicarakan kasus putra-putranya.
d.   Dapat memberikan data objektif selengkap mungkin tentang kelemahan-kelemahan putranya dalam pelajaran.
e.    Mampu membantu memprediksi dan memberi latihan sepenuhnya terhadap kasus yang dihadapinya.
3.    Staf Tata Usaha Sekolah
Mengaministrasi data-data kasus mulai dari latar belakang, asal-usul dan sebab-sebab kesulitan belajar siswa, cara-cara memprediksi penyembuhannya, sampai dengan cara-cara penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran remedial.
4.    Penilik Sekolah
a.    Melakukan kunjungan rutin ke sekolah untuk mamantau dan mengawasi jalannya penyelenggaraan pendidikan.
b.    Menyelenggarakan diskusi periodik dengan kepala sekolah dan guru-guru tentang upaya pemecahan kesulitan belajar siswa.
c.    Menyelenggarakan upaya kerja sama yang baik dengan lembaga-lembaga terkait.
5.    Para Pemerhati Pendidikan
Para pemerhati pendidikan adalah orang-orang yang menaruh perhatian penuh terhadap proses dan hasil pendidikan yang dicapai siswa di sekolah serta berinisiatif besar dalam memberikan pendapat, sikap, dan aspirasinya dalam upaya penanganan kasus atau dalam hal ini siswa lamban belajar.
6.    Lembaga-Lembaga Kemasyarakatan Terkait
Keterlibatan lembaga-lembaga kemasyarakatan terkait dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran remedial, khususnya dalam penanganan kasus kenakalan remaja diperlukan sekali terutama membantu sekolah dalam mengumpulkan data objektif tentang latar belakang dan sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa serta membantu dalam penyelesaiannya.

H.      Evaluasi Pengajaran Remedial
Pada akhir kegiatan siswa diadakan evaluasi. Tujuan paling utama adalah diharapkan 75% taraf pengusaan (level of mastery). Bila ternyata belum berhasil maka dilakukan diagnostik dan memperoleh pengajaran remedial kembali.
Evaluasi perlu dilakukan secara kontinu untuk menentukan perkembangan dan prosedur yang hendak dilaksanakan dimasa mendatang. Evaluasi remidi memiliki arti penting bagi orang-orang terdekat siswa. Oleh karena itu, perlu diberikan informasi kepada siswa dan orangtua mengenai perkembangan belajarnya.

No comments:

Post a Comment